Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kesenian Gaok Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah

  • Imas Siti Masitoh Universitas Negeri Yogyakarta
  • Ajat Sudrajat
Keywords: Kesenian Gaok, Nilai-Nilai Kearifan Lokal, Sumber Pembelajaran Sejarah

Abstract

Abstract

Gaok art is an art in the form of an oral tradition in the Kulur Village community which contains a description of the social and cultural life of the community in the past. This study aims to explore the values ​​of local wisdom contained in the art of Gaok in Kulur Village, Majalengka District and describes its potential as a source of historical learning. The research method used in this research was qualitative ethnograpghy with data collected through literature study, interviews, and observations. The results obtained indicate that there are local wisdom values in the art of Gaok, namely religious, social, language, knowledge, economic, technology, and artistic. These values ​​can be used as a source of learning Indonesian history at the 10th grade of senior high school level. The integration of the local wisdom values ​​of Gaok art as a source of historical learning is very important in order to build historical awareness and instill good characteristics in students, especially in the Majalengka area, to allow them to become civilized people who shall not abandon their local culture.

Keywords: Gaok Art, Local Wisdom Values, Historical Learning Resources.

 

Abstrak

Kesenian gaok merupakan kesenian berupa tradisi lisan masyarakat Desa Kulur yang di dalamnya berisi mengenai gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya pada masa lampau. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam kesenian gaok di Desa Kulur, Kecamatan Majalengka dan mendeskripsikan potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, wawancara, dan observasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam kesenian gaok, yaitu nilai religi, sosial, bahasa, pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan seni. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah Indonesia pada jenjang SMA/MA kelas X. Pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal kesenian gaok sebagai sumber pembelajaran sejarah sangatlah penting guna membangun kesadaran sejarah dan membina karakter peserta didik khususnya di daerah Majalengka agar menjadi manusia beradab yang tidak meninggalkan budaya lokalnya.

Kata Kunci: Kesenian Gaok, Nilai-Nilai Kearifan Lokal, Sumber Pembalajaran Sejarah.

References

Andi. (2014). Wawancara langsung bersama jurumaos kesenian Gaok pada 15 Januari 2021. Majalengka.
Brata, I. D. (2019). Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Gending Rare sebagai Upaya Melestarikan Kearifan Lokal Bali. Diakronika, 19 (1), 50-65.
Darmadi, H. (2014). Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta.
Dwinanda, R. (2020, November, 09). Survei APJII: 73 Persen Masyarakat terhubung Internet. Republika, diakses 05 Januari 2020, dari https://republika.co.id/berita/qjj67h414/survei-apjii-73-persen-masyarakat-terhubung-internet.
Fakhrurozi, J. (2016). Pemertahanan Tradisi Lisan Gaok di Desa Kuur Majalengka. Teknosastik, 14 (12), 28-38.
Fatmawati, I. (2015). Efektivitas Buah Maja (Aegle Marmelos (L.) Corr.) Sebagai Bahan Pembersih Logam Besi. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 9 (1), 81-87.
Firdaus, dkk. (2018). Kesadaran Sejarah Siswa terhadap Ketokohan dan Keteladanan Sunan Kudus di MA Qudsiyyah Kudus Tahun Pelajaran 2017/2018. Indonesian Journal of History Education, 6 (2), 150-161.
Hardiana, Y. (2017). Pembelajaran Sejarah Indonesia Berbasis Peristiwa-peristiwa Lokal di Tasikmalaya untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 1 (1), 41- 45.
Hasan, S. H. (2012). Pendidikan Sejarah Indonesia. Bandung: Rizqi Press
Hidayatuloh, S. (2019). Nilai-nilai Kearifan Lokal Upacara Adat Ngikis di Situs Karangmulyan Kabupaten Ciamis. Patanjala, 11 (1), 97-113.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Kleden, N. & Probonegoro. (2012). Etnografi Membuat Data Bercerita. Jurnal Masyarakat & Budaya, 14 (1), 1-30.
Mulyana, A. (2017). Mengembangkan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah, diakses pada 05 Januari 2020, dari http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/mengembangkan-kearifan-lokal-dalam-pembelajaran-sejarah/.
Mulyana, R. (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.
Nasution, R. D. (2017). Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi terhadap Eksistensi Budaya Lokal. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik, 21 (1), 30-42.
Ratih, D. (2019).Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Misalin di Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis. ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 15 (1), 45-57.
Rispan & Sudrajat, A. (2020). Pewarisan Nilai-nilai Kearifan Lokal Kalosara dalam Pembelajaran Sejarah untuk Membangun Karakter Siswa. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 8 (1), 61-76.
Rukmin. (2019). Wawancara langsung bersama dalang Gaok pada 11 November 2019. Majalengka.
Supardan, D. (2004). Kesadaran Sejarah Berbasis Pendidikan Multikultural dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, Global dalam Integrasi Bangsa. (Disertasi). Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung.
Syaputra, E. (2019). Pandangan Guru Terhadap Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah.: Studi Deskriptif di Beberapa SMA di Bengkulu Selatan dan Kaur. Indonesia Journal of Science Education (IJSSE), 1(1), 1-10.
Wangsadihardja, E. (1999). Naskah Wawacan Rambut Kasih Leungit Jinis. Majalengka: Catur Mitra Pendidikan Kabupaten Majalengka.
Wangsadihardja, E. (1999). Naskah Wawacan Talaga Manggung. Majalengka: Catur Mitra Pendidikan Kabupaten Majalengka.
Wangsadihardja, E. (1999). Wawacan Sulanjana. Majalengka: Catur Mitra Pendidikan Kabupaten Majalengka.
Widja, I. G. (2002). Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.
Wikantiyoso, Respati. & Tutuko, P. (2009). Kearifan Lokal dalam Perencanaan dan Perancangan Kota: untuk Mewujudkan Arsitektur Kota yang Berkelanjutan. Malang: Group Konservasi Arsitektur & Kota.
Published
2022-06-30
Section
Articles